Di Bawah Tanah Majapahit, Air Pernah Dianggap Suci
Ada tempat di Trowulan yang tidak berdiri menjulang, tidak memamerkan ketinggian, dan bahkan tidak langsung terlihat. Untuk menemukannya, kita justru harus turun. Menuruni anak tangga bata, meninggalkan permukaan tanah, seolah sedang mundur ke masa ketika Majapahit memahami air sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kebutuhan hidup.
Candi Tikus berada di bawah permukaan tanah, tersembunyi dengan cara yang nyaris simbolis. Ia bukan candi pemujaan seperti yang sering dibayangkan orang, melainkan sebuah petirtaan, tempat air dikumpulkan, dialirkan, dan dimuliakan. Dari atas, ia tampak sederhana. Namun ketika berdiri di dasarnya, ruang ini terasa seperti pusat dari sesuatu yang lebih besar.
Dibangun pada masa kejayaan Majapahit, Candi Tikus menunjukkan betapa majunya pemahaman kerajaan ini terhadap tata air. Air tidak dibiarkan mengalir sembarangan. Ia ditata, diarahkan, dan diberi makna. Pancuran-pancuran kecil mengalirkan air ke kolam utama, menciptakan keseimbangan antara fungsi teknis dan nilai simbolik. Di sini, kebersihan tidak hanya berarti jasmani, tetapi juga batin.
Nama Candi Tikus sendiri baru muncul berabad-abad kemudian, ketika situs ini ditemukan kembali dalam kondisi terkubur dan dipenuhi sarang tikus. Ironis, mengingat tempat ini dulunya adalah ruang suci. Namun barangkali justru di situlah letak ceritanya. Sejarah tidak selalu dijaga dengan hormat. Kadang ia ditinggalkan, tertutup tanah, lalu menunggu waktu yang tepat untuk ditemukan kembali.
Candi Tikus memberi gambaran tentang Majapahit sebagai kota, bukan sekadar kerajaan simbolik. Ia menunjukkan bahwa kehidupan di masa itu diatur dengan kesadaran ruang dan alam. Air menjadi pusat peradaban, bukan elemen tambahan. Dari petirtaan ini, kita bisa membayangkan bagaimana kota Majapahit hidup, bergerak, dan bernapas.
Bata merah yang menyusun dinding dan tangga memperkuat kesan bahwa tempat ini dibangun dengan ketelitian, bukan kemewahan berlebihan. Tidak ada ukiran rumit atau relief naratif seperti di candi pemujaan. Yang ada hanyalah bentuk yang jujur dan fungsi yang jelas. Sebuah keindahan yang lahir dari kesederhanaan dan pemahaman mendalam.
Hari ini, Candi Tikus berdiri sunyi di tengah kawasan Trowulan. Pengunjung datang dan pergi, sebagian hanya singgah sebentar. Namun bagi mereka yang mau diam sejenak, tempat ini berbicara dengan caranya sendiri. Ia mengingatkan bahwa kejayaan tidak selalu meninggalkan istana megah. Kadang, ia tersisa dalam kolam air yang tenang dan ruang yang dibangun untuk menjaga keseimbangan.
Majapahit mungkin telah runtuh, tetapi caranya memandang air masih relevan. Di tengah dunia modern yang sering memperlakukan alam sebagai sumber tanpa batas, Candi Tikus berdiri sebagai pengingat sunyi bahwa peradaban besar lahir dari rasa hormat. Bahwa jauh di bawah tanah, air pernah dianggap suci, dan manusia memilih untuk menunduk, bukan menguasai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar